fbpx

Hepatitis D

Hepatitis D

penyakit hepatitis c 1 1 - Hepatitis D

Hepatitis D adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis D (Delta Virus). Virus ini mengakibatkan terjadinya radang pada hati. Namun khusus untuk hepatitis D, penyakit ini membutuhkan virus Hepatitis B untuk menjangkiti sel hati.

Hepatitis D disebabkan oleh infeksi virus hepatitis delta (HDV). Seseorang bisa terkena HDV jika bersentuhan dengan darah atau cairan tubuh dari penderita. Mulai dari urine, cairan vagina, air mani, maupun darah. Proses persalinan juga dapat menularkan penyakit ini dari ibu pada bayinya.

Meski begitu, virus tersebut hanya dapat menginfeksi seseorang jika dia telah menderita hepatitis B. Pasalnya, HDV membutuhkan virus hepatitis B untuk bertahan hidup. Hepatitis D dapat terjadi melalui dua cara berikut ini:

  • Koinfeksi: Tertular HBV dan HDV secara bersamaan.
  • Superinfeksi: Pengidap menderita hepatitis B terlebih dahulu, kemudian terinfeksi HDV.

HDV dapat ditularkan melalui:

  1. Urine.
  2. Kehamilan (dari ibu ke janin).
  3. Persalinan (dari ibu ke bayi).
  4. Cairan sperma.
  5. Cairan vagina.
  6. Darah.

Beberapa hal yang menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah terkena hepatitis D antara lain adalah:

  1. Terkena infeksi hepatitis B.
  2. Sering menerima transfusi darah.
  3. Melakukan seks anal.
  4. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik, misalnya heroin.
  5. Pasien cuci darah.
  6. Pekerja fasilitas kesehatan.

Infeksi hepatitis D seringkali bersifat asimptomatik (tidak menimbulkan gejala) pada sekitar 90% penderitanya. Selain itu, infeksi hepatitis D seringkali sulit dibedakan dari infeksi virus hepatitis lainnya secara klinis, terutama gejala infeksi virus hepatitis B. Gejala hepatitis B dan D sangat mirip sehingga sulit untuk menentukan virus mana yang menimbulkan gejala pada penderita.

Gejala hepatitis D yang umumnya ditemui antara lain adalah:

  • Kulit dan mata menjadi kuning.
  • Rasa lelah.
  • Mual dan muntah.
  • Nyeri sendi.
  • Nyeri perut.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Warna urine berubah menjadi gelap seperti teh.
  • Gatal-gatal.
  • Tampak bingung.
  • Memar dan perdarahan.

Pengobatan menggunakan interferon pada pasien dilakukan dengan penyuntikkan setiap minggu dan dapat berlangsung selama 12-18 bulan. Meskipun demikian, terkadang setelah pengobatan interferon selesai dijalani, pasien masih dapat memberikan hasil positif pada pengetesan virus HDV. Pendekatan akhir untuk menghilangkan hepatitis D adalah menghilangkan hepatitis B. Jika hepatitis B masih positif, Hepatitis D masih infeksius.

Pengobatan hepatitis D terfokus pada observasi terhadap pemeriksaan fungsi hati. Khusus bagi penderita hepatitis D yang sudah mengalami kerusakan hati akibat sirosis ataupun fibrosis, dapat menjalani operasi cangkok hati. Operasi ini dilakukan dengan mengangkat hati pasien yang sudah rusak dan menggantinya dengan hati yang masih sehat yang diperoleh dari donor.

Hepatitis D dapat menimbulkan penyakit akut maupun kronis. Hepatitis D akut terjadi secara tiba-tiba dan menimbulkan gejala yang lebih hebat dibanding hepatitis D kronis. Jika infeksi hepatitis D terjadi selama 6 bulan atau lebih, maka infeksi yang terjadi merupakan infeksi kronis. Pada infeksi kronis, gejala yang timbul akan berkembang dan bertambah parah secara perlahan. Virus biasanya menetap di tubuh selama beberapa bulan sebelum gejala pertama muncul. Semakin lama infeksi hepatitis D terjadi, maka risiko terjadinya komplikasi akibat penyakit ini semakin tinggi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah:

  • Sirosis.
  • Kanker hati.

Belum ada vaksin untuk mencegah terjadinya hepatitis D. Meski demikian, Anda dapat mencegah penularannya dengan beberapa hal di bawah ini:

  • Pemberian vaksin hepatitis B.
  • Terapi antihepatitis B.
  • Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang yang disuntikkan. Penggunaan jarum suntik secara bergantian dapat meningkatkan kemungkinan penularan hepatitis D.
  • Menggunakan kondom saat melakukan aktivitas seksual.
  • Berhati-hati saat melakukan tato dan tindikan. Pasalnya, menggunakan jarum bekas orang lain dapat meningkatkan risiko penularan hepatitis D

Punya Keluhan penyakit? Hubungi kami untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Tlp/WA: 0811-6131-718

Subscribe Youtube: Klinik Atlantis

KLINIK ATLANTIS
Alamat: Jalan Williem Iskandar ( Pancing ) Komplek MMTC Blok A No. 17-18, Kenangan Baru, Kec. Percut Sei Tuan, Sumatera Utara 20223

Related Posts---

Leave A Reply---

WhatsApp Kami