fbpx

HIV AIDS

HIV AIDS

hiv aids - HIV AIDS

Pengertian HIV dan AIDS

Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Pada prosesnya, HIV menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh secara drastis sehingga memungkinkan penyakit, bakteri, virus, dan infeksi lainnya menyerang tubuh. Dan parahnya, jika sudah terinfeksi HIV tak akan bisa disembuhkan sama sekali.

Sementara itu, AIDS adalah kondisi yang paling parah dari penyakit HIV dan ditandai dengan munculnya penyakit lain, seperti kanker dan berbagai infeksi, yang muncul seiring dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh Anda. Namun perawatan akan memperlambat kerusakan pada sistem kekebalan tubuh sehingga orang dengan HIV dapat tetap baik, hidup sehat dan memuaskan.

HIV dapat ditularkan melalui luka yang tak terlihat dan goresan pada permukaan vagina, penis atau anus ketika berhubungan seks tanpa kondom (seks tanpa kondom) dengan orang yang memiliki HIV. Untuk menghindari tertularnya HIV, lakukanlah seks secara aman dengan menggunakan kondom itu sendiri.

Proses HIV menyerang sistem kekebalan tubuh

Berbeda dengan virus-virus lain yang bisa menyerang melalui udara, kontak fisik, atau objek/wadah yang terkontaminasi, HIV hanya ditularkan ketika cairan tubuh dari seseorang yang hidup dengan HIV memasuki aliran darah orang lain. Dari situ, HIV menyerang sel sistem kekebalan tubuh. Secara khusus, menginfeksi dan menggunakan sel darah putih (CD4) sebagai ‘pabrik’ untuk mereproduksi dan menghancurkan sel-sel CD4 yang sedang berproses.

Untuk diketahui, semakin hancur sel CD4, akan semakin lemah sistim kekebalan tubuhnya. Jika sistem kekebalan tubuh semakin melemah, risiko mengembangkan infeksi dan penyakit menjadi lebih besar. Seiring berjalannya waktu, dan tanpa pengobatan, jumlah sel CD4 dapat menjadi begitu sangat rendah dan dapat menyebabkan seseorang mengembangkan AIDS. Untuk melawan HIV, tubuh Anda akan memproduksi antibodi. Namun, antibodi tidak dapat bersaing dengan jumlah virus yang direproduksi. Oleh karena itu, melakukan perawatan akan membantu tubuh Anda melawan virus secara efektif.

Gejala HIV dan AIDS

Gejala HIV dibagi dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah tahap infeksi akut, dan terjadi pada beberapa bulan pertama setelah seseorang terinfeksi HIV. Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi membentuk antibodi untuk melawan virus HIV.

Pada banyak kasus, gejala pada tahap ini muncul 1-2 bulan setelah infeksi terjadi. Penderita umumnya tidak menyadari telah terinfeksi HIV. Hal ini karena gejala yang muncul mirip dengan gejala penyakit flu, serta dapat hilang dan kambuh kembali. Perlu diketahui, pada tahap ini jumlah virus di aliran darah cukup tinggi. Oleh karena itu, penyebaran infeksi lebih mudah terjadi pada tahap ini.

Gejala tahap infeksi akut bisa ringan hingga berat, dan dapat berlangsung hingga beberapa minggu, yang meliputi:

  • Demam hingga menggigil.
  • Muncul ruam di kulit.
  • Muntah.
  • Nyeri pada sendi dan otot.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Sakit kepala.
  • Sakit perut.
  • Sakit tenggorokan dan sariawan.

Setelah beberapa bulan, infeksi HIV memasuki tahap laten. Infeksi tahap laten dapat berlangsung hingga beberapa tahun atau dekade. Pada tahap ini, virus HIV semakin berkembang dan merusak kekebalan tubuh.

Gejala infeksi HIV pada tahap laten bervariasi. Beberapa penderita tidak merasakan gejala apapun selama tahap ini. Akan tetapi, sebagian penderita lainnya mengalami sejumlah gejala, seperti:

  • Berat badan turun.
  • Berkeringat di malam hari.
  • Demam.
  • Diare.
  • Mual dan muntah.
  • Herpes zoster.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Sakit kepala.
  • Tubuh terasa lemah.

Infeksi tahap laten yang terlambat ditangani, akan membuat virus HIV semakin berkembang. Kondisi ini membuat infeksi HIV memasuki tahap ketiga, yaitu AIDS. Ketika penderita memasuki tahap ini, sistem kekebalan tubuh sudah rusak parah, sehingga membuat penderita lebih mudah terserang infeksi lain.

Gejala AIDS meliputi:

  • Berat badan turun tanpa diketahui sebabnya.
  • Berkeringat di malam hari.
  • Bercak putih di lidah, mulut, kelamin, dan anus.
  • Bintik ungu pada kulit yang tidak bisa hilang.
  • Demam yang berlangsung lebih dari 10 hari.
  • Diare kronis.
  • Gangguan saraf, seperti sulit berkonsentrasi atau hilang ingatan.
  • Infeksi jamur di mulut, tenggorokan, atau vagina.
  • Mudah memar atau berdarah tanpa sebab.
  • Mudah marah dan depresi.
  • Ruam atau bintik di kulit.
  • Sesak napas.
  • Tubuh selalu terasa lemah.

Pengobatan serta pencegahan HIV dan AIDS

Meskipun sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV, namun ada jenis obat yang dapat memperlambat perkembangan virus. Jenis obat ini disebut antiretroviral (ARV). ARV bekerja dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri, dan mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4. Beberapa jenis obat ARV, antara lain:

  1. Efavirenz
  2. Etravirine
  3. Nevirapine
  4. Lamivudin
  5. Zidovudin

Selama mengonsumsi obat antiretroviral, dokter akan memonitor jumlah virus dan sel CD4 untuk menilai respons pasien terhadap pengobatan. Hitung sel CD4 akan dilakukan tiap 3-6 bulan. Sedangkan pemeriksaan HIV RNA dilakukan sejak awal pengobatan, dilanjutkan tiap 3-4 bulan selama masa pengobatan.

Untuk menghindari dan mencegah terjangkit HIV lakukan beberapa langkah berikut :

  • Gunakan kondom yang baru tiap berhubungan seks, baik seks melalui vagina atau melalui dubur. Bila memilih kondom berpelumas, pastikan pelumas yang berbahan dasar air. Hindari kondom dengan pelumas yang berbahan dasar minyak, karena dapat membuat kondom bocor. Untuk seks oral, gunakan kondom yang tidak berpelumas.
  • Hindari berhubungan seks dengan lebih dari satu pasangan.
  • Beri tahu pasangan bila Anda positif HIV, agar pasangan Anda menjalani tes HIV.
  • Diskusikan kembali dengan dokter bila Anda didiagnosis positif HIV dalam masa kehamilan, mengenai penanganan selanjutnya dan perencanaan persalinan, untuk mencegah penularan dari ibu ke janin.
  • Bagi pria, disarankan bersunat untuk mengurangi risiko infeksi HIV.

Related Posts---

Leave A Reply---

WhatsApp Kami