fbpx

Kudis

Kudis

Kudis 600x600 - Kudis

Kudis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kutu parasit Sarcoptes scabiei. Oleh sebab itu, seringkali penyakit ini disebut penyakit scabies. Penyakit ini amat mudah menular dan menyebabkan rasa gatal pada penderitanya.

Dalam kasus ini, kutu kecil yang menjadi penyebab kudis masuk ke dalam kulit dan bertelur di lapisan kulit manusia. Kudis adalah penyakit yang mendunia dan dapat menyerang siapapun dari berbagai suku dan ras. Orang dengan kebiasaan dan penampilan yang bersih bahkan dapat terkena penyakit ini.

Penyakit ini menyebar melalui cara kontak langsung antar kulit. Gejala utamanya adalah rasa gatal yang sangat menyiksa dan terjadi terus menerus.

Kudis memang lebih banyak ditemukan di negara berkembang atau negara dengan iklim tropis. Namun, tidak menutup kemungkinan penyakit ini ditemukan di negara maju dengan iklim dingin. Hal ini bisa terjadi karena penyebaran kudis tidak ditentukan oleh udara, tapi lewat kontak fisik langsung dengan penderitanya.

Hal itulah yang kemudian membuat kudis sering di kategorikan sebagai penyakit menular seksual. Bila Anda berhubungan seksual dengan penderita kudis dan menyentuh kulit atau bagian yang terkena kudis, Anda bisa jadi ikut tertular.

Penularan melalui hubungan seksual terutama terjadi pada penderita yang berada pada usia aktif berhubungan seksual. Namun, bukan berarti penyebaran kudis hanya bisa melalui hubungan seksual.

Kebanyakan orang tidak menyadari memiliki penyakit ini pada tahap awal. Sebab, gejalanya sangat mirip dengan infeksi kulit lainnya, seperti jerawat atau gigitan nyamuk. Pada tahap selanjutnya, barulah kudis mudah dikenali lewat rasa gatalnya yang menyakitkan.

Gejala yang timbul adalah ruam kulit berupa benjolan merah dan gambaran melepuh yang mengenai bagian kulit tertentu penderitanya. Gejala lain adalah timbulnya terowongan kecil berwarna merah pada daerah lipatan kulit disertai rasa gatal. Rasa gatal pada kulit akhirnya akan menyebabkan penderita sering menggaruk bagian kulit yang sakit sehingga bisa menyebabkan terjadinya infeksi tambahan akibat luka garukan tersebut.

Pengobatan penyakit ini menggunakan terapi skabisid (obat pemusnah scabies) oral yang diminum atau dioles pada kulit. Orang dalam usia muda dan lansia adalah dua kelompok yang mudah terkena penyakit ini.

Gejala Kudis

Gejala kudis seringkali timbul hingga enam minggu setelah infeksi skabies pertama kali terjadi. Pada penderita yang sebelumnya sudah pernah terinfeksi, biasanya gejala dapat timbul dalam waktu yang lebih singkat.

Gejala utama dari penyakit kudis adalah ruam kemerahan disertai rasa gatal yang berlebihan dan makin dirasakan, terutama pada malam hari. Luka akibat garukan pada kulit yang terus menerus dapat menyebabkan lecet yang pada akhirnya menyebabkan infeksi tambahan pada kulit, yaitu infeksi akibat bakteri penyebab lain. Apabila sudah terjadi infeksi tambahan, maka dokter biasanya akan merekomendasikan pemberian antibiotik tambahan pada kulit.

Gejala umum kudis pada remaja dan orang dewasa timbul pada area:

1. Siku lengan
2. Pergelangan tangan
3. Ketiak
4. Puting
5. Penis
6. Pinggang
7. Bokong
8. Area sekitar jari

Gejala kudis yang paling umum ialah rasa gatal yang sangat intens, juga muncul ruam-ruam dengan rasa gatal yang perih dan menyakitkan. Karena merupakan penyakit menular seksual, kudis juga dapat ditemukan di alat kelamin, biasanya penis.

Penyakit kudis juga bisa timbul pada bayi, balita, juga terkadang pada usia lanjut. Orang dengan kondisi gangguan imun tubuh juga mungkin terinfeksi kudis dengan gejala ruam dan gatal yang timbul pada:

1. Kepala
2. Muka
3. Leher
4. Tangan
5. Telapak kaki

Gejala kudis berupa ruam di kulit biasanya terdiri atas gelembung-gelembung kecil atau luka lecet. Ruam yang timbul dapat berupa bintik-bintik merah kecil, bentol-bentol kemerahan dan benjolan besar seperti memar.

Terkadang, dapat ditemukan saluran terowongan atau lubang kecil yang menjadi sarang kutu scabies pada kulit penderita. Liang ini biasanya berupa benjolan garis lurus yang warnanya berbeda dengan warna area kulit yang sehat.

Lubang kecil mungkin akan terlihat di atas ruam karena merupakan terowongan yang dibuat oleh kutu betina untuk menyimpan telurnya. Namun, jumlah kutu di atas kulit biasanya sangat terbatas. Hanya 10 hingga 15 kutu per orang. Inilah yang membuat terowongan tempat menyimpan telur kutu sulit ditemukan.

Beberapa penderita dapat juga memiliki kelainan kulit penyakit kudis yang disebut Scabies Norwegia atau borok scabies. Penyakit kudis ini lebih berat dan sangat menular. Penderita tampak memiliki luka borok tebal pada kulit yang mengandung ribuan kutu scabies dan telur kutu.

Borok scabies dapat timbul berupa:

1. Borok tebal
2. Berwarna keabuan
3. Gampang rontok ketika disentuh

Borok scabies biasanya timbul pada orang dengan sistem imun yang melemah, seperti penderita HIV atau AIDS, orang yang menggunakan steroid atau dalam pengobatan (seperti pengobatan radang sendi), atau orang yang sedang dalam pengobatan kemoterapi. Kutu kudis dapat dengan mudah mengalahkan sistem imun tubuh dan berkembang biak dalam kecepatan tinggi.

Penyebab Kudis

Penyebab kudis adalah parasit atau kutu betina yang disebut Sarcoptes scabiei. Oleh karena itu, penyakit ini seringkali disebut scabies atau kutu manusia. Parasit ini tinggal di atas kulit dan menggali lapisan atas kulit untuk menyimpan telurnya. Setelah tiga atau empat hari, larva kutu akan menetas dan beranjak ke permukaan kulit untuk tumbuh dewasa.

Sarcoptes scabiei selama hidupnya mengalami empat tahap siklus yaitu tahap telur, larva, nimfa, dan tahap dewasa. Parasit scabies betina akan bertelur sebanyak 2 hingga 3 telur per harinya, sembari terus menggali terowongan di kulit manusia. Lalu telur-telur ini akan menetas setelah tiga hingga empat hari.

Setelah telur tersebut menetas, larva scabies akan bermigrasi menuju permukaan kulit, menggali terowongan, dan bersarang pada lapisan kulit. Setelah itu, larva berkembang menjadi nimfa lalu kemudian menjadi kutu dewasa. Setelah dewasa, kutu jantan akan mencari kutu betina dan berkembang biak mengulangi siklus hidup yang sama.

Penularan penyakit ini terjadi, terutama karena adanya perpindahan kutu betina yang sudah dibuahi oleh kutu jantan melalui kontak kulit antar seseorang ke orang lain.

Kudis dapat muncul di bagian tubuh mana saja. Namun, tempat favorit parasit Sarcoptes scabiei adalah tempat-tempat hangat pada lapisan permukaan kulit. Oleh karena itu, kudis sering ditemukan di kulit antara jari-jari, lipatan payudara, lingkar pinggang, dan juga di bawah kuku.

Parasit Sarcoptes scabiei juga sering bersembunyi di bawah gelang, cincin, atau karet jam pada kulit manusia. Meski manusia hanya berpotensi memiliki 10 hingga 15 kutu Sarcoptes scabiei, parasit satu ini tetap sulit ditemukan dan diberantas dari atas kulit karena ukurannya yang tak lebih dari setengah milimeter.

Kutu kudis tidak dapat melompat atau terbang. Cara mereka bergerak adalah dengan merayap perlahan-lahan. Karena itu satu-satunya cara untuk mereka berpindah dari satu orang ke orang lainnya adalah dengan menunggu orang-orang tersebut berkontak fisik secara intens.

Inilah mengapa kudis dikatakan sebagai penyakit menular seksual, karena hubungan seks adalah salah satu contoh kontak fisik intens yang berlangsung cukup lama. Hindari pula menggunakan barang yang sama dengan penderita kudis. Ada potensi Anda akan tertular karena kutu kudis dapat hidup di luar tubuh manusia selama 24 hingga 36 jam.

Punya Keluhan penyakit? Hubungi kami untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Tlp/WA: 0811-6131-718

Subscribe Youtube: Klinik Atlantis

KLINIK ATLANTIS
Alamat: Jalan Williem Iskandar ( Pancing ) Komplek MMTC Blok A No. 17-18, Kenangan Baru, Kec. Percut Sei Tuan, Sumatera Utara 20223

Related Posts---

Leave A Reply---

WhatsApp Kami